Cari Blog Ini

Rabu, 31 Juli 2013

praktikum faal 3



LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama  Mahasiswa       : Farid Hikmatullah
NPM                            : 12512773
Tanggal pemeriksaan : 13-06-2013
Nama Asisten : 1. Maizar S
                           2.
Paraf Asisten :

1.      Percobaan                                    : Pendengaran & Keseimbangan
Nama percobaan                         : Percobaan Rine
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan praktikan           : untuk membuktikan bahwa
Transmisi melalui udara lebih baik dari pada tulang
b.      Dasar teori                       : Suara yang dibedakan tekanannya
berkolerasi dengan gelombang sinus. Suara semacam itu disebut nada murni (pure tone). Siklus gelombang menuju kompresi dan ekspansi udara seperti suara geombang yang selalu bergerak. Kedua karakteristik utama gelombang seperti itu adalah frekuensi dan amplitudo. Frekuensi diukur dengan jumlah getaran perdetik; yaitu beberapa kali perdetik sampai siklus gelombang suara diulang. Unit Hertz (singkatan Hz) digunakan untuk menunjukkan sikus perderik; yaitu suatu siklus perdetik sama dengan satu Hz. Amplitudo berhubungan dengan jumlah kompresi dan ekspansi udara, seperti digambarkan oleh panjangnya gelombang dimulai dari puncak sampai dasar kurva.
Frekuensi gelombang suara pada dasarnya merupakan penyebab dari apa yang kita alami sebagai pitch (tingkatan nada). Namun pitch sebuah nada dapat juga dipengaruhi oleh intensitas. Jadi, 'pitch' pun hanya terkait pada satu atribusi fisik stimulus. Demikian pula, 'loudness' (kerasnya suara) berkolerasi dengan kuat pada amplitudo gelmbang atau intensitas suara. Namun demikian, gelombang suara berfrekuensi rendah yang mempunyai amplitudo sama dengan suara berfrekuensi tinggi tidak selalu menghasilkan suara yang sama keras.Manusia dapat mendengar frekuensi anrata 20- 20.000 Hz.
Ketika garputala bergetar, terdapat urutan gelombang komprensi dan ekspansi. Jika gapura tala membuat 100 kali getaran perdetik, maka akan terdapat gelombang suara dengan 100 komprensi perdetik (yaitu, 100 Hz). Bunyi yang tekanannya terkorelasi dengan gelombang sinus disebut nada murni, bentuk gelombang bunyi apapun (tidak peduli betapa kompleksnya) dapat dipecah menjadi serangkaian gelombang sinus yang berbeda dengan amplitudo yang sesuai. Bila gelombang sinus tersebut dirambahkan lagi, hasilnya akan sama dengan bentuk gelombang aslinya.
                     
c.   alat yang digunakan        : Garputala
d.   Jalannya Percobaan       : 1. Subjek diminta memegang
      bagian bawah pada garputala.
  2. Kemudian subjek akan diberikan
      instruksi untuk memukul atau
      mengetuk bagian tengah garput
      alat ke arah kursi.
  3.  Setelah di pukul kemudian
  letakkan garputala diatas kepala
  sampai gelombang atau getaran
  menghilang.
  4.  Lalu letakkan didepan lubang
      telinga dan memberikan jawaban
      apakah bunyinya masih terdengar
      atau tidak.
  5.  Kemudian dilanjutkan dengan
      pengujian yang sama, garputala
      di pukul atau diketukkan dikursi.
  6.  Setelah di pukul kemudian
      Garputala didekatkan ke arah
      belakang telinga (tetapi tidak
      menempel ditelinga) sampai
      gelombang atau getaran
      menghilang.
  7.  Lalu letakkan didepan lubang
      telinga dan memberikan jawaban
      apakah bunyinya masih terdengar
      atau tidak.

e.   Hasil Percobaan               : dari data yang diperoleh dari
Pengujian yaitu bahwa Saat garputala diletakkan diatas kepala lalu di arahkan ke depan lubang telinga hasilnya adalah masih terdengar. Dan saat garputala di arahkan ke belakang telinga lalu di arahkan ke depan lubang telinga hasilnya adalah terdengar.
f.   Kesimpulan                      : 1. Ketika nada garpu tala tidak
                                                      terdengar lagi dipuncak kepala,
                                                      tetapi ketika diletakkan dilubang
                                                      telinga nada suara masih
                                                      terdengar.


1.      Ketika nada suara garputala tidak tedengar lagi dibelakang telinga, tetapi ketika diletakkan dilubang telinga nada masih terdengar.
2.      Semakin besar garpu tala makin berat suara garputala sejajar maka hantaran suaranya bagus.

g.      Daftar Pustaka                : EBOOK GUNADARMA
                                                                                              Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,.
Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.
  Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,.
            Aritomoyo, D,.  (2010).
DiagnosisKekurangan Pendengaran.
















1.2  Percobaan                                    : Pendengaran & Keseimbangan
Nama percobaan                         : Ketajaman Pendengaran
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan                         : untuk mengetahui ketajaman
pendengaran pada telinga subjek baik kiri maupun kanan
b.      Dasar teori                       : Loundness (kekerasan suara) dan
beberapa suara yang sudah dikenal diskalakan dalam decibel. Lepas landasnya roket Saturn V ke bulan yang diukur pada alas peluncurannya kurang lebih 180 db. Untuk ikus- tikus percobaan, skala suara 150 db dalam waktu yang cukup lama menyebabkan kematian. Bahkan band-band rock dapat menimbulkan bunyi dengan 120 db atau lebih yang menyebebkan kerusakan pendengaran permanen.
Aerotymponal adalah penghantar suara melalui udara, sedangkan Craniotymponal adalah penghantar suara melalui tulang. Pada orang tua elastisitas membran thympani berkurang, sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan baik. Membran thmpani menghantarkan maleus, incus, stapes sehingga terdengar suara.
Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna, sangat luas. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan, namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi, biasanya di atas 120 dB. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi), cara yang digunakan untuk Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 24 mendengar suara tersebut ( melalui earphone, pengeras suara, dsb), dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga, di udara terbuka, dsb). Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal, diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan, karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut, maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat; dengan kata lain, pendengaran orang tersebut berkurang. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat, maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik.
Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara, dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz, 2). Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band, 3). Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar.

c.  alat yang digunakan         : sebuah arloji dan alat ukur
                                                  (meteran)
d. Jalannya Percobaan         :  1. Sebuah arloji ditempatkan
didekatkan salah satu lubang telinga praktikan, sementara telinga yang satu ditutup.
    2. selanjutnya arloji dijauhkan dari
        telinga sampai tidak terdengar.

     3. ukur jarak arloji terhadap
         telinga dan lakukan hal yang
         sama pada telinga yang lain.
e. Hasil Percobaan                 : diperoleh bahwa masing-masing
dari telinga kiri maupun kanan mempunyai ketajaman pendengaran yang berbeda dan banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut telinga kanan mampu mendengar hingga jarak 76 dan telinga kiri 64.
f. Kesimpulan                        : dari data diatas dapat disimpulkan
Bahwa praktikan diperoleh bahwa masing-masing dari telinga kiri maupun kanan mempunyai ketajaman pendengaran yang berbeda dan banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut telinga kanan mampu mendengar hingga jarak 76 dan telinga kiri 64.
Dan hal ini disebabkan karena adanya kebisingan dalam ruang praktikum.
g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Plotnik.R.(2005:127). Introduction
      to psychology 7th edition.
     Australia: thomson&wodsworth.
 NN.(2010). Kebisingan
Suara.




















1.3  Percobaan                                    : Pendengaran dan Keseimbangan
Nama percobaan                         : Tempat Sumber Bunyi
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan                         : Untuk Menentukan sumber bunyi
b. Dasar teori                         : Telinga adalah organ penginderaan
dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.
Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran, yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)).
c.  alat yang digunakan         : Pipa Karet

d. Jalannya Percobaan         :  1. Subjek akan diberikan sebuah
       pipa karet.
   2. Subjek akan diminta meletakan
       pipa karet kedepan lubang
       telinga.
   3. Kemudian asisten laboratorium
       akan menekan bagian-bagian
       pada pipa karet, seperti bagian
       kanan, kiri, atau tengah.
   4. Dan subjek akan diminta
       menjawab bagian mana yang
       ditekan.

e.       Hasil Percobaan              : dari data yang diperoleh dari subjek
Pengujian yaitu masih bisa membedakan bunyi kanan dan kiri saat percobaan menggunakan pipa karet masih normal. Untuk membedakan bunyi pada bagian tengah memang cukup sulit. Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran.
f.       Kesimpulan                      : dapat disimpulkn bahwa praktikan
masih bisa membedakan bunyi kanan dan kiri saat percobaan menggunakan pipa karet masih normal. Untuk membedakan bunyi pada bagian tengah memang cukup sulit. Dan hal ini dapat dibuktikan dengan 4/4 percobaan.

g.      Daftar Pustaka                : EBOOK GUNADARMA
                                                                                              Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,.
Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.
   Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,.
            Aritomoyo, D,.  (2010).
DiagnosisKekurangan Pendengaran.
   Plotnik.R.(2005:127). Introduction
            to psychology 7th edition.
Australia: thomson&wodsworth.






2.  Percobaan                                     : Pendengaran Dan Keseimbangan
Nama percobaan                         : Cara Kerja Kedudukan Kepala dan
  Mata Normal
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan                         : untuk  mengetahui cara kerja
kedudukan kepala dan mata normal pada saat tubuh mengalami ketidak seimbangan.
b.  Dasar teori                        : Keseimbangan adalah kemampuan
untuk mempertahankan orientasi tubuh dan bagian- bagiannya dalam hubungan yang dengan ruang internal. Keseimbangan tergantung pada continous visual, labirintin, dan input somatosensorius (proprioceptif) dan integrasinya dalam batang otak dan serebelum.
Gangguan keseimbangan dihasilkan dari penyakit yang mempengaruhi sentral atau pathway vestibular perifer, serebelum atau sensori pathway yang terlibat dalam proprioceptif. Sebagai gangguan biasanya menunjukkan satu atau dua masalah klinik: vertigo atau ataksia.

c.  alat yang digunakan         : ruang praktikum yang cukup untuk
  praktikan melakukan percobaan
d. Jalannya Percobaan         :  1. praktikan diperintahkan untuk
berjalan mengikuti satu garis lurus dilantai dengan mata terbuka, kepala dan tubuh dalam sikap biasa dan lihat apakah praktikan mengalami kesulitan
   2. setelah itu praktikan di minta
       untuk menoleh muka kearah
       kanan atau kiri dan berjalan
       kembali.
e. Hasil Percobaan                 : dari data yang diperoleh dari
Pengujian yaitu bahwa dalam sikap tubuh biasa, praktikan dapat berjalan lurus tanpa mengalami kesulitan. Namun tidak bisa berjalan lurus jika berjalan dan menoleh kearah kanan dan kiri.
f. Kesimpulan                        : dari data diatas dapat disimpulkan
Bahwa dalam sikap tubuh biasa praktikan dapat berjalan lurus tanpa mengalami kesulitan dan tida bisa berjalan lurus jika menoleh ke arah kanan ataupun kiri.
g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,.
            Aritomoyo, D,.  (2010).
DiagnosisKekurangan Pendengaran.
  NN. (2009). Gangguan
Keseimbangan.
















2.2  Percobaan                                    : Pendengaran & Keseimbangan
Nama percobaan                         : kanalis Semisirkularis Horizontalis
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan                         : untuk memahami cairan endolimph
dan perilimph yang terdapat pada  telinga
b.  Dasar teori                        : Untuk memahami cairan endolimph
dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang akan terganggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala; melihat adanya Nistagmus.
c.  alat yang digunakan         : Saputangan besar, tongkat/ barang
                                                  yang sudah bisa diberdirikan.
d. Jalannya Percobaan         : 1. Subjek diinstruksikan untuk
                                                      berdiri tegak
  2. Kemudian subjek diminta untuk
      menutup mata.
  3. Subjek diputar kearah kanan 5
      kali.
  4. Kemudian mata subjek dibuka
      dan diarahkan untuk berjalan
   5. Selanjutnya subjek kembali
       menutup mata dan diputar
       kembali kearah berlawanan
       (kiri) sebanyak 5 kali.
   6. kemudian subjek kembali
       membuka mata dan diarahkan
       berjalan kembali.
  7. Subjek diminta membedakan
      sulit antara putaran pertama atau
      kedua yang lebih pusing?

e. Hasil Percobaan                 : dari data yang diperoleh dari
Pengujian yaitu bahwa praktikan mengalami pusing pada saat diputar pertama kali ke arah kanan dan juga sulit berjalan lurus karena cairan endolimph dan perilimph bergejolak namun hal ini tidak terjadi pada saat tubuh di putar untuk yang kedua kalinya karena cairan tersebut yang ada didalam tubuh telah normal kembali.
f. Kesimpulan                        : dari data diatas dapat disimpulkan
Bahwa praktikan biasanya mengalami kesulitan untuk berjalan lurus dan hal ini normal karena cairan endolimph dan perilimph baru bergejolak dan hal ini tidak berlaku pada saat tubuh di putar kedua kalinya karena cairan tersebut telah normal kembali.
g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Plotnik.R.(2005:127). Introduction
      to psychology 7th edition.
     Australia: thomson&wodsworth.
  NN. (2000). Indera Pendengar.
    




















2.3  Percobaan                                    : Pendengaran & Keseimbangan
Nama percobaan                         : Cara Kerja Nistagmus
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan                         : Untuk memahami cairan endolimph
dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorang akan terganggu; memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah dikembalikan seperti sediakala, melihat adanya Nistagmus.

b.  Dasar teori                        : Telinga manusia terdiri atas tiga
                                                  bagian, yaitu
  1. Telinga luar, yang menerima
      gelombang suara.
  2. Telinga tengah, dimana
      gelombang suara dipindahkan
      dari udara ke tulang dan oleh
      tulang ke telinga dalam.
  3. Telinga dalam, dimana getaran
      ini diubah menjadi impuls saraf
      spesifik yang berjalan melalui
      nervus akustikus ke susunan saraf
      pusat. Telinga dalam juga
      mengandung organ vestibuler
     yang berfungsi untuk
     mempertahankan keseimbangan.
     Telinga luar. Telinga luar terdiri
dari daun telinga (pinna,   aurikula), saluran telinga luar (meatus akustikus eksternus) dan selaput gendang (membrane tympani), bagian telinga ini berfungsi untuk menerima dan menyalurkan getaran suara atau gelombang bunyi sehingga menyebabkan bergetarnya membran tympani.
Telinga Tengah (kavum tympanikus). Telinga tengah merupakan suatu rongga kecil dalam tulang pelipis (tulang temporalis) yang berisi tiga tulang pendengaran (osikula), yaitu maleus (tulang martil), inkus (tulang landasan), dan stapes (tulang sanggurdi). Ketiganya saling berhubungan melalui persendian
Telinga Dalam (labirin). Telinga dalam merupakan struktur yang kompleks, terdiri dari serangkaian rongga-rongga tulang dan saluran membranosa yang berisi cairan. Saluran-saluran membranosa membentuk labirin membranosa dan berisi cairan endolimfe, sedangkan rongga-rongga tulang yang di dalamnya berada labirin membranosa disebut labirin tulang (labirin osseosa). Labirin tulang berisi cairan perilimfe.
Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam telinga.

c.  alat yang digunakan         : Saputangan besar, tongkat/ barang
                                                  yang sudah bisa diberdirikan.
d. Jalannya Percobaan         : 1. praktikan diperintahkan untuk
merunduk, kemudian tangan  kanan memegang telinga dan tangan kiri memegang lutut (secara silang).
  2. Sejantutnya mata di tutup atau
      dipejamkan.

  3. Kemudian tubuh diputar ke arah
      kanan sebanyak 3 kali.
  4. Setelah diputar subjek ditegakan
      kembali, dan membuka matanya.
  5. Subjek akan merasakan apa yang
      terjadi.

e. Hasil Percobaan                 : dari data yang diperoleh dari
Pengujian yaitu bahwa praktikan mengalami pusing dan pandangan kabur yang sesaat terhadap objek yang dilihat.
f. Kesimpulan                        : dari data diatas dapat disimpulkan
Bahwa praktikan mengalami pusing dan pandangan yang kabur karena cairan endolimph dan perilimph bergejolak atau baru bekerja.
g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Plotnik.R.(2005:127). Introduction
      to psychology 7th edition.
     Australia: thomson&wodsworth.
  Murni, A.Y,. (2003). Gangguan
     Pendengaran Akibat Bising.
     
   
     NN. (2000). Indera Pendengar.
      
  
     NN. (2009). Gangguan
                                                                               Keseimbangan.
                                                                              
                                                                   
     Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,.
Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar