Cari Blog Ini

Rabu, 31 Juli 2013

praktikum faal 5



LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama  Mahasiswa       : Farid Hikmatullah
NPM                            : 12512773
Tanggal pemeriksaan : 04-07-2013
Nama Asisten : 1. Andaru R B
                           2. Feliane H R
Paraf Asisten :

1.      Percobaan                                    : Indera Peraba
Nama percobaan                         : perasaan pada kulit
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : Laboratorium Psikologi Faal
a.      Tujuan praktikan           : Untuk mengetahui adannya
reseptor, sentuhan, dingin, dan panas pada kulit, serta mengetahui letak masing-masing reseptor.

b.      Dasar teori                       : Pada ujung-ujung perifernya,
neuron aferen memiliki reseptor yang memberitahu SSP mengenai perubahan-perubahan yang dapat dideteksi, atau rangsangan, baik dari luar maupun lingkungan dalam dengan membangkitkan potensial aksi sebagai respons terhadap rangsangan. Potensial aksi ini disalurkan melalui serat aferen ke SSP. Rangsangan terdapat dalam berbagai bentuk energi atau modalitas, misalnya panas, cahaya, suara, tekanan, dan perubahan kimiawi.
                         Kulit terdiri dari 3 bagian, yaitu:
                        1. Epidermis   : bagian terluar
                        2. Dermis       : terdapat kelenjar dan saluran keringat, bulbus      rambut, folikel rambut dan akar rambut; kelenjar Sebaseus.
                       3. Subcutaneous: pembuluh darah; saraf cutaneous, jaringan otot.  
Reseptor kulit dan hamparan impuls di saraf perifer. Kulit berfungsi sebagai berikut:

                             1. Mekanoreseptor
=> berkaitan dengan indera raba, tekanan getaran, dan kenestesi (gerak).
                             2. Thermoreseptor
=> berkaitan dengan penginderaan yang mendeteksi panas dan dingin.
     3. Chemoreseptor
=> mendeteksi rasa asam, basa, dan garam.
      4. Rasa nyeri
=> berkaitan dengan mekanisme protektif bagi kulit.
                

c.   alat yang digunakan        : 3 baskom plastik yang masing-
masing diisi oleh air hangat, dingin,   dan netral dan larutan air, alkohol, dan aseton.
d.   Jalannya Percobaan       : Terdapat 3 baskom di atas meja.
Baskom A berisi air dingin, baskom B berisi air hangat, dan baskom C berisi air netral. Tangan kiri dan kanan dimasukkan ke dalam baskom A dan B. Kiri air dingin dan kanan air hangat. Setelah beberapa menit tangan direndam ke air tersebut, masukkan kedua tangan ke dalam air yang berisi air netral atau C. Kemudian bedakan rasanya.
Dan praktikan diminta untuk meniup punggung tangannya stealah itu diberi stetes air dan kemudian ditiup begitu juga sterusnya terhadap alkohol dan juga aseton kemudian praktikan membedakan rasanya terhadap kulit.





e.   Hasil Percobaan               : Dari data yang diperoleh dari
Pengujian yaitu Tangan kiri yang dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air dingin menjadi hangat setelah dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air netral. Begitu pula sebaliknya, tangan kanan yang dimasukkan ke dalam air hangat merasa dingin setelah dimasukkan ke dalam air netral.

Hasil sebenarnya:

v  Biasanya setelah dimasukkan ke dalam baskom B (netral), tangan kanan terasa dingin dan tangan kiri akan merasa hangat.
v  Karena pada saat di baskom B, ada pengurangan kalor pada tangan kanan, dan penambahan kalor pada tangan kiri.
v  Kulit berfungsi sebagai thermoreseptor yang mendeteksi rasa panas (rufinis) dan mendeteksi rasa dingin (end krause).


Dan pada punggung kulit yang diberi cairan air, alkohol dan juga aseton dinyatakan bahwa aseton lebih dingin dibandingkan dengan alkohol dan air.
f.   Kesimpulan                       : Ketika tangan kanan dimasukkan
ke dalam baskom yang berisi air hangat, thermoreseptor mendeteksi adanya rasa panas (rufinis) dan terjadi pengurangan kalor pada tangan kanan ketika dimasukkan ke dalam air netral (dari hangat ke dingin). Begitu pula tangan kiri yang dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air dingin, thermoreseptor mendeteksi adanya rasa dingin (end krause) dan terjadi penambahan kalor pada tangan kiri ketika dimasukkan ke dalam air netral (dari dingin ke hangat).

Dan pada punggung kulit yang diberi cairan maka ada reeptor dingin pada kulit selain itu aston yang lebih dingin dibanding cairan lainnya hal ini disebabkan karena aseton memiliki titik didih yang rendah sehingga ketika menganai kulit akan langsung menguap dan selama proses penguapan memerlukan kalor yang diambil dari tubuh maka kulit akan terasa dingin.
g.      Daftar Pustaka                : EBOOK GUNADARMA
                                                                                              Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,.
Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.
  Soewolo, dkk. (1999). Fisiologi
 Manusia. Malang: JICA

  Sherwood, Lauralee. (2001).
Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Alih bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.










2.      Percobaan                                    : Indera Peraba
Nama percobaan                         : Lokalisasi Taktil
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan             : Memahami serta mengetahui
kepekaan saraf peraba dengan melokalisasir tempat yang ditusukkan ke berbagai tempat, serta mengetahui kepekaan TPL (Two Point Localization).

b. Dasar teori                         : Setiap neuron sensorik berespons
terhadap informasi sensorik hanya dalam daerah terbatas di permukaan kulit sekitarnya; daerah ini dikenal sebagai lapangan reseptif (receptive field). Ukuran lapangan reseptif bervariasi berbanding terbalik dengan kepadatan reseptor di daerah tersebut. Semakin dekat dengan penempatan reseptor jenis tertentu, semakin kecil daerah kulit yang dipantau oleh reseptor tersebut. Semakin kecil lapangan reseptif di suatu daerah, semakin besar ketajaman (acuity) atau kemampuan diskriminatif.
Selain kepadatan reseptor, faktor kedua yang mempengaruhi ketajaman adalah inhibisi lateral. Kita dapat menyadari pentingnya fenomena ini dengan sedikit menekan permukaan kulit dengan ujung pulpen. Lapangan reseptif di bagian bawah ujung pulpen tempat rangsangan paling kuat segera terangsang, tetapi lapangan reseptif di sekitarnya juga terangsang walaupun dengan tingkat yang lebih rendah karena lapangan-lapangan tersebut tidak terlalu terdistorsi. 
c.  alat yang digunakan         : Pensil yang ujungnya tumpul,
                                                  spidol/pulpen, dan penggaris.
d. Jalannya Percobaan         : Praktikan diminta untuk
berpasangan dengan asisiten. Dan kemudian praktikan menutup matanya dan asisten membuat tanda di tangan praktikan. praktikan diminta menebak letak dari tanda yang dibuat oleh asisten. Kemudian diukur jaraknya.
e. Hasil Percobaan                 : tanda yang pertama  : 0,5 cm
                         tanda yang kedua      : 0,2 cm
                         tanda yang ketiga      : 0,5 cm

                                   Hasil Sebenarnya:
·         Bila jarak tusukan yang pertama dengan yang kedua kurang dari 5 cm maka saraf peraba baik. Lebih dari 5 cm maka saraf peraba kurang baik.
·         TPL (Two Points Localization) => lebih peka pada bagian yang menonjol (hidung, mata, bibir, ujung jari, telinga, dll.)
·         Jarak yang asisten tusuk dengan yang praktikan dapat tergantung pada waktu.
·         Waktu mempengaruhi sehingga ada penyebaran sensasi.
·         TPL sama dengan system => menyebar dan melingkar.

f. Kesimpulan                        : Ketajaman taktil relatif suatu
daerah tertentu dapat ditentukan oleh uji diskriminasi ambang dua titik. Dengan mengubah jarak antara satu titik dengan titik berikutnya, seseorang dapat menentukan jarak antara titik yang satu dengan titik yang dirasakannya. Lapangan reseptif di bawah bagian tengah ujung pulpen tempat rangsangan paling kuat segera terangsang, tetapi lapangan reseptif di sekitarnya juga terangsang, walaupun dengan tingkat yang lebih rendah karena lapangan-lapangan tersebut tidak terlalu terdistorsi. Apabila informasi dari serat-serat aferen yang terangsang secara marginal di bagian tepi daerah rangsangan ini sampai korteks, lokalisasi (TPL) ujung pulpen tersebut akan kabur.
Jalur sinyal yang paling kuat diaktifkan yang berasal dari pusat rangsangan menghambat jalur-jalur yang kurang terangsang yang berasal dari daetah sekitar pusat rangsangan. Hal ini terjadi melalui berbagai antarneuron inhibitorik yang berjalan secara lateral antara serat-serat asendens yang mempersarafi lapangan reseptif yang berdekatan. Penghambatan transmisi sinyal yang lebih lemah akan meningkatkan kontras antara informasi yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, sehingga ujung pulpen dapat dengan tepat ditentukan. Kekuatan koneksi inhibisi lateral di dalam jalur-jalur sensorik bervariasi sesuai modalitas. Modalitas yang memilki inhibisi paling lateral-sentuhan dan penglihatan - menghasilkan lokalisasi paling akurat.

g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Plotnik.R.(2005:127). Introduction
      to psychology 7th edition.
     Australia: thomson&wodsworth.
  Sherwood, Lauralee. (2001).
 Fisiologi Manusia dari Sel ke  Sistem. Alih bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.








3.      Percobaan                                    : Indera Peraba
Nama percobaan                         : Membedakan sifat benda
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan             : Untuk membuktikan kepekaan saraf
peraba terhadap kehalusan benda sampai kekasaran benda, serta bentuk-bentukbenda(stereognastik).
b. Dasar teori                         : Reseptor secara cepat beradaptasi
dengan tidak lagi berespons terhadap rangsangan yang menetap, tetapi jika rangsangan dihentikan, reseptor berespons dengan depolarisasi ringan. Reseptor-reseptor yang cepat beradaptasi antara lain adalah reseptor taktil (sentuh) dikulit yang memberitahu mengenai perubahan tekanan pada permukaan kulit. Karena reseptor-reseptor ini cepat beradaptasi, kita tidak terus menerus menyadari bahwa kita sedang menggunakan baju yang berbahan kasar, halus, atau lembut. Sewaktu melepaskannya kita menyadarinya karena adanya off response.
Pada lapisan kulit bagian dermis terdapat ribuan tonjolan kecil yang disebut papilae yang keluar dari dermis kedalam lubang dari lapisan yang teramat kecil di dasar epidermis, papilae ini berisi ujung-ujung syaraf yang peka terhadap sentuhan. Jadi pada saat kita meraba maka papilae inilah yang bekerja karena papilae berisi syaraf yang sangat peka terhadap sentuhan. Yang membuat kita menyadari setiap benda yang kita sentuh baik itu kasar maupun halus.
Reseptor fisik penting saat dalam situasi-situasi penyampaian adanya perubahan intensitas rangsangan dan bukan penyampaian informasi stastus quo, reseptor-reseptor yang cepat beradaptasi antara lain adalah reseptor taktil (sentuh) dikulit yang memberitahu mengenai perubahan tekanan pada permukaan kulit. Karena reseptor-reseptor ini cepat beradaptasi. Maka kita akan dengan mudah menebak semua barang-barang yang di sentuh tanpa harus melihatnya, karena kita sudah pernah mengingatnya sebelumnya.
Mekanisme terjadinya adaptasi berbeda-beda untuk reseptor yang berlainan dan belum sepenuhnya diketahui untuk semua jenis reseptor. Mekanisme adaptasi untuk corpus atau badan Pacini (pacinian corpuscle), suatu reseptor kulit yang mendeteksi tekanan dan getaran diketahui disebabkan oleh sifat-sifat fisiknya.
Ketika mencapai korda spinalis, informasi aferen memiliki dua kemungkinan tujuan akhir yaitu pertama, informasi tersebut mungkin menjadi bagian dari lengkung refleks, menyebabkan timbulnya respons efektor yang sesuai atau yang kedua informasi tersebut mungkin disampaikan ke atas otak melalui jalur-jalur asendens untuk pengolahan lebih lanjut dan memungkinkan individu menyadari benda apa yang disentuhnya.

c.  alat yang digunakan       : Berbagai macam bentuk balok atau
kubus, silinder, lingkaran, segitiga, dan kerucut dan berbagai macam kain dari yang halus sampai yang kasar.
d. Jalannya Percobaan         : Praktikan diminta untuk
memejamkan mata sambil memegang macam-macam benda yang berbentuk huruf dan binatang  yang telah disediakan. Kemudian praktikan diminta menebak apa yang ada digenggamannya. Setelah itu praktikan diminta untuk mengambil dan mengurutkan kain dari yang paling halus sampai pada yang paling kasar
e. Hasil Percobaan                 : Praktikan dengan mengurutkan dari
yang paling halus ke paling kasar : hitam, pink, oranye, putih, dan hijau.
Hasil sebenarnya: putih, pink, hitam, oranye, dan hijau.
Praktikan dengan benar menyebutkan benda-benda yang ada di genggamannya.

                                                                                      Hasil sebenarnya:
Jawaban dengan benar ditebak oleh praktikan. Yaitu 2/5 percobaan.

f. Kesimpulan                        : Pada percobaan kekasaran
permukaan di atas, praktikan dapat menebak dengan benar. Hal ini membuktikan bahwa berdasarkan teori yang telah dijelaskan pada dasar teori benar. Kita dapat membedakan permukaan benda itu kasar atau halus  karena jari memiliki sel-sel persyarafan yang menyebar di seluruh permukaan kulit jari tangan yang disebut  papilae. Dan juga lapangan reprentif yang terdapat di kulit juga mempengaruhi indera peraba, karena lapangan reprentif akan mengirimkan sinyal-sinyal ke otak yang membuat kita bisa mengetahui keadaan benda yang kita sentuh.
Pada percobaan stereognostik

praktikan bisa menebak macam-macam benda dengan benar. Hal ini menandakan bahwa saraf peraba praktikan berfungsi dengan baik. Seperti yang telah dijelaskan pada dasar teori bahwa reseptor-reseptor pada kulit cepat beradaptasi. Maka kita akan dengan mudah menebak semua barang-barang yang di sentuh tanpa harus melihatnya, karena kita sudah pernah mengingatnya sebelumnya.
Ketika mencapai korda spinalis, informasi aferen memiliki dua kemungkinan tujuan akhir yaitu pertama, informasi tersebut mungkin menjadi bagian dari lengkung refleks, menyebabkan timbulnya respons efektor yang sesuai atau yang kedua informasi tersebut mungkin disampaikan ke atas otak melalui jalur-jalur asendens untuk pengolahan lebih lanjut dan memungkinkan individu menyadari benda apa yang disentuhnya.

g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Plotnik.R.(2005:127). Introduction
      to psychology 7th edition.
     Australia: thomson&wodsworth.
  Sherwood, Lauralee. (2001).
Fisiologi Manusia dari Sel ke  Sistem. Alih bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.
   Soewolo, dkk. (1999). Fisiologi
      Manusia. Malang: JICA








4.      Percobaan                                    : Indera Peraba
Nama percobaan                         : Gerak Refleks
Nama subjek percobaan             : Farid Hikmatullah
Tempat percobaan                      : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan praktikan             : Untuk mengetahui adanya gerakan-
                                                  gerakan refleks pada otot.
b. Dasar teori                         : Gerakan refleks merupakan respons
otomatis dari sebagian tubuh terhadap suatu stimulus. Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Gerakan ini terjadi dengan tiba–tiba tanpa bisa dicegah.
Sistem saraf tak sadar (otonom) merupakan gabungan dari sensorok dan motorik. Saraf takk sadar dibedakan atas dua yaitu:
1.      Saraf Simpatis / thoracolumbar

ü  Berpangkal pada medula spinalis di daerah leher dan daerah pinggang.

2.      Saraf  Parasimpatis / Cranio
 Sacral
ü  Berpangkal pada medula oblongata dan ada juga di sacrum.

                                                                           Fungsi sistem saraf terdiri atas:
·         Pusat koordinasi segala aktifitas tubuh.
·         Pusat kesadaran, memori, dan intelegensi.
·         Pusat Higher Mental Procces, yaitu reasoning (penalaran, thingking (berpikir), dan judgement (mengambil keputusan).
                                                                                    Skema gerak refleks:
Reseptor / stimulus  à saraf sensorik à tali spinal à interneuron à saraf motorik à aksi / efektor.
Contohnya gerak pada lutut kaki, ketika lutut kaki dipukulkan akan dengan spontan atau reflek bergerak kedepan dengan sendirinya.

c.  alat yang digunakan         : Sebuah martil reflek dengan bagian
                                                  depan terbuat dari karet.
d. Jalannya Percobaan         : Praktikan duduk di tepi meja
dengan tungkai bawah tergantung dan kemudian asisten memukul urat di bawah tempurung lutut dengan martil refleks.


e. Hasil Percobaan                 : Setelah dipukulkan dengan martil
refleks secara refleks kaki bergerak ke depan dan terasa sedikit nyeri atau ngilu dibagian lutut yang dipukul tersebut.

                                                                           Hasil sebenarnya:

Lutut yang dipukulkan dengan martil refleks secara spontan bergerak sendiri karena adanya gerak refleks, tetapi tidak harus bergerak bisa juga terasa seperti tersentrum atau ngilu.

f. Kesimpulan                        : Percobaan di atas terbukti bahwa
adanya gerakan refleks pada lutut kaki. Hal itu bisa terjadi karena pada saat lutut dipukulkan, kaki secara refleks berayun kedepan. Refleks sentakan lutut merupakan refleks rentangan. Gerakan refleks juga merupakan respons otomatis dari sebagian tubuh terhadap stimulus. Refleks terjadi karena adanya stimulus yang disebabkan oleh pukulan yang  diteruskan ke saraf sensorik, setelah itu stimulus terus berjalan melalui tali spinal dan interneuron, kemudian diteruskan ke saraf motorik dan akhirnya menghasilkan efektor berupa ayunan pada kaki yang berayun ke depan.

g. Daftar Pustaka                  : EBOOK GUNADARMA
  Plotnik.R.(2005:127). Introduction
      to psychology 7th edition.
     Australia: thomson&wodsworth.
  Sherwood, Lauralee. (2001).
Fisiologi Manusia dari Sel ke  Sistem. Alih bahasa oleh Batricia I. Jakarta: EGC.
   Soewolo, dkk. (1999). Fisiologi
      Manusia. Malang: JICA
  Sugema, Sony. (2008). Diktat Kelas
      3 SMU IPA. Bandung: SSC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar